PROKAL.CO, TANA PASER - Wilayah Kabupaten Paser memiliki 10 kecamatan, 5 kelurahan, dan 139 desa. Hampir 40 persen perekonomiannya bergantung pada komoditas perkebunan kelapa sawit. Namun, keberadaan komoditas ini tidak selalu membawa angin segar bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Paser, Bahriansyah. Dia mengatakan, setiap hari selalu ada warga yang menanam kelapa sawit.
“Pasti ada. Tapi, untuk cakupan berapa luasnya tidak bisa terdata,” ujarnya.
Kelapa sawit yang sudah menjadi tulang punggung warga Paser memberi dampak baik. Di antaranya, mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan buruh setelah dibukanya lahan. Selain itu, jalan desa terbuka secara gratis dari si pemilik lahan dan pemerintah bisa mengurangi jatah beras miskin (raskin) kepada warga sekitar area perkebunan. Karena, warga tersebut sudah mampu tanpa harus diberi bantuan.
Bahriansyah menyebut, sawit juga memiliki nilai minus karena merupakan sumber daya yang bisa diperbarui. Banyak warga hanya mengandalkan sawit untuk pendapatannya. Sementara itu ketika harga pasaran minyak mentah menurun, imbasnya terasa ke seluruh lapisan pelaku. Mulai buruh kebun, tukang dodos, sampai perusahaan atau pabrik yang mengolah hasil minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
“Dampak lainnya ialah jalan aspal milik negara sering rusak akibat besarnya muatan tandan buah segar. Karena itu, jika pemerintah ingin membangun jalan di daerah ini, jangan tanggung-tanggung. Harusnya langsung kelas tertinggi agar tidak tambal sulam,” katanya.
Melihat ketergantungan Paser terhadap sawit, dia menyayangkan tidak adanya produk lain yang bisa dihasilkan daerah. Seluruh hasil TBS milik warga maupun perusahaan sampai menjadi CPO, hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan pabrik di luar Paser. Tidak ada produk jadi yang dihasilkan di daerah. Yang ada hanya bisa menikmati produk dari Pulau Jawa, bahkan luar negeri, seperti kosmetik dan obat-obatan.
“Padahal, dari kita bangun tidur sampai tidur lagi, tidak terlepas dari produk sawit. Di antaranya, pasta gigi, minyak goreng, dan kosmetik lainnya,” sebut Bahriansyah.
Ke depan, dia berharap pemerintah bersama seluruh stakeholder bisa memanfaatkan kekayaan hasil TBS ini, untuk menjadi produk unggulan daerah. Di Paser sendiri, ada sejumlah kampus dan salah satunya memiliki jurusan bidang pertanian dan perkebunan. Namun, belum ada yang bisa mengangkat komoditas ini menjadi produk yang berharga. (kpnn/vie/k1)

No comments:
Post a Comment