Thursday, August 3, 2017

MANA PEMERINTAH..!!? Sampai Warga Batu Sopang Sendiri Hentikan Truk Sarat Muatan

BLOKIR JALAN: Pertemuan warga di ruang Desa Batu Kajang untuk membahas kendaraan angkutan sarat muatan yang melintas di jalur trans Kaltim-Kalsel. Serta warga dan kepala desa serta tokoh masyarakat berfoto di samping truk semen yang dihentikan warga.


PROKAL.COTANA PASER   -  Warga dan tokoh masyarakat Desa Batu Kajang, Songka, Kasungai dan Sungai Terik akhirnya menghentikan iring-iringan kendaraan angkutan semen milik PT Conch yang melintas di jalur trans Kaltim yang ada di Kecamatan Batu Sopang. Salah satu alasan penghentian iring-iringan ini, selain dinilai angkutan yang tidak sesuai dengan kelas jalan sehingga akan mempercepat kerusakan jalan yang baru saja mulus, iring-iringan panjang kendaraan “gajah” ini juga dinilai berpotensi menimbulkan lakalantas di jalur trans Kaltim.
Aksi warga ini mendapat dukungan penuh dari legislator Paser, Aspiana. Bahkan, legislator dapil Batu Sopang itu juga mengikuti jalannya rapat hingga tercapai kesepakatan warga dalam pertemuan yang dipusatkan di Kantor Desa Batu Kajang, Selasa (1/8) lalu. Menurut Aspiana, apa yang menjadi tuntutan dan keinginan warga cukup logis. Karena jika setiap hari poros trans Kaltim yang sudah mulus dilalui kendaraan dengan muatan hingga 50 ton, maka akan mempercepat kerusakan badan jalan.
“Kapasitas atau kelas jalan trans Kaltim yaitu Tanah Grogot-Kuaro-Batu Sopang, hanya delapan ton. Sementara itu, kendaraan yang melintas dengan iring-iringan sampai belasan kendaraan dengan muatan paling sedikit 30 ton akan mempercepat kerusakan jalan,” tegas Aspiana kepada Paser Pos.
Disebutkan, dari hasil pertemuan warga yang difasilitasi kepala Desa Batu Kajang, ada beberapa kesimpulan. Yaitu, warga Kecamatan Batu Sopang menolak kendaraan angkutan (trailer) semen milik PT Conch untuk melintas di jalan Kecamatan Batu Sopang dan mengembalikan kendaraan angkutan ke tempat asalnya.
“Sebelumnya sudah ada kesepakatan antara penyedia jasa angkutan PT BIS untuk tidak mengangkut angkutan melebihi 8 ton sesuai kapasitas dan kelas jalan, tapi nyatanya diingkari. Ini yang memicu warga melakukan penolakan,” ujarnya.
Ditegaskan Aspiana, sedikitnya ada 12 unit kendaraan angkutan jenis trailer dengan kapasitas 30-50 ton yang dihentikan warga serta diminta untuk kembali dan tidak melintas di ruas jalan Batu Kajang.
Di bagian lain, Kasat Lantas Polres Paser AKP Hendro Wibowo mengungkapkan, kendaraan angkutan jenis trailer gandeng yang dihentikan warga memang melanggar kelas jalan. Selain itu, dalam melakukan aktivitasnya pun dengan cara beriringan (konvoi), sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Sesuai dengan regulasi, maka kendaraan ini akan ditindak melalui tilang.
“Untuk sama-sama menjaga agar tidak terjadi gesekan antara pemilik semen PT Conch dengan warga, agar pemilik angkutan hendaknya bisa menjaga kondusivitas dengan disesuaikannya antara kelas jalan dengan angkutan. Karena sebelumnya, kita (Satlantas) bersama personel Dishub sudah menertibkan angkutan ini,” ujar Hendro Wibowo.
Kelas jalan trans Kaltim yang ada di Kabupaten Paser hanya tipe kelas III-B. Kendaraan yang diperbolehkan melewati jalan hanya yang bermuatan maksimal 8 ton. Tapi, kendaraan pengangkut semen ini justru bermuatan 30 ton bahkan lebih, yang berpotensi mempercepat kerusakan jalur trans Kaltim.
Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Perhubungan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Paser, HM Guntur. Menurutnya, truk trailer gandeng yang mengangkut semen sempat ditertibkan beberapa waktu lalu (31/7) bersama Satlantas di Km 12 Tanah Grogot. Tidak hanya melanggar kepemilikan izin angkutan khusus, truk tersebut juga melanggar terkait angkutan yang melebihi dari batas kemampuan jalan di wilayah Kabupaten Paser.
“Karena sudah melanggar, teguran tertulis dilayangkan untuk sopir dan pemilik perusahaan agar mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. Dan, kami selalu berkoordinasi dengan Satlantas Polres Paser dalam melakukan kegiatan penertiban, termasuk penertiban kendaraan yang bermuatan khusus,” jelas Guntur. (ian/cal/k1)

No comments:

Post a Comment