PROKAL.CO, Korban dugaan malapraktik, Humaida (47), kini memulai kehidupan baru. Ya, setelah bertahun-tahun dirawat di rumah sakit, kini dia dipulangkan ke rumahnya di jalan negara Kelurahan Kuaro, RT 19, RW 6, Sei Rat atau tak jauh dari pertigaan Desa Padang Jaya.
HUMAIDA selama enam tahun lamanya hanya bisa terbaring. Untuk terus menyambung hidup, dia hanya mengandalkan asupan makanan berupa bubur putih. Makanan lunak itu dimasukkan ke hidung dengan bantuan selang yang berukuran kecil. Buang air besar (BAB) dilakukan di tempat, terkadang dengan bantuan popok dewasa.
Di rumahnya di jalan negara Kelurahan Kuaro, RT 19, RW 6, Humaida ditemani suaminya, Abdul Muthalib (53) beserta keempat anaknya. Anaknya yang kelima tinggal bersama sanak keluarganya di Kalimantan Selatan. Lantas, apa pekerjaan suaminya sekarang setelah usaha bengkel yang dia tekuni sempat tutup? Abdul Muthalib mengatakan, di tengah menata kehidupan baru, dia melayani pemasangan onderdil velg truk yang rusak.
“Kebanyakan velg truk. Seperti topi velg yang patah atau retak karena keberatan muatan, jadi langsung diganti,” kata Abdul Muthalib sambil bekerja.
Dari usaha tersebut, dia mematok tarif pemasangan Rp 125 ribu. Namun jika pemilik truk tidak menyediakan onderdilnya, dia mengaku siap menyediakan namun dihargai Rp 350 ribu. Dari usaha tersebut, dia meraup hasil tidak menentu. Terkadang dalam sehari, dua atau tiga orderan didapat. Namun terkadang juga tidak ada sama sekali. Usaha tersebut satu-satunya yang bisa dia tekuni karena alat-alat untuk mengelas seperti kompresor sudah rusak. Usahanya sempat ramai karena banyaknya truk batu bara yang kerap mengganti topi velg. Namun, karena truk yang lewat kini mulai sepi, usahanya pun ikut sepi.
“Ya, sekarang cuma mengandalkan kenalan dan langganan dulu. Kalau saingan sih tidak ada,” ungkap Abdul Muthalib.
Dengan kondisi seperti ini terasa berat bagi Abdul Muthalib. Beruntung, anak sulungnya Januar Asari telah diwisuda. Januar pulalah yang bisa diandalkan ketika harus mengurus proses administrasi ibunya di rumah sakit. Saat ibunya di rawat di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie (RS AWS) Samarinda, Januar mengaku sempat melamar beberapa pekerjaan, namun belum ada yang diterima.
“Setelah ditimbang-timbang, kasihan Bapak membesarkan adik-adik sendirian kalau saya jauh. Jadi setelah itu saya tidak ada memasukkan lamaran kerja lagi,” ucap Januar.
Di mata tetangganya, Humaida merupakan seorang yang ramah dan kerap bercengkerama bersama tetangga. Mama Ais, tetangga terdekat Humaida mengingat saat terakhir kali melihat Humaida sehat.
“Terakhir kalinya melihat saat Ibu Humaida hamil. Lama nggak kelihatan, baru melihat kondisinya sudah begitu,” katanya.
Mama Ais mengaku prihatin dan kasihan. Namun mau bagaimana lagi, sebab garis takdir sudah ada yang menentukan. “Yang paling saya ingat, orangnya ramah dan baik,” ujarnya. (apy/cal/habis/k1)

No comments:
Post a Comment