Sunday, October 1, 2017

Bakti Sosial Kesehatan TNI Layani 101 Pasien


TANA PASER – Komando Distrik Militer (Kodim) 0904 Tanah Grogot, Kamis (28/9) kemarin, menggelar bakti sosial TNI Manunggal Keluarga Berencana (KB) Kesehatan di Desa Muara Adang, Kecamatan Long Kali.
Menurut Komandan Kodim (Dandim) 0904 Tanah Grogot Letkol Arh Ardian Patria Chandra, kegiatan baksos merupakan bagian dari program TNI dalam bidang kependudukan. “Iya, baksos ini adalah salah satu bagian program TNI dalam bidang kependudukan,” ungkapnya.
Dengan dihadiri sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Paser serta puskesmas dan camat setempat.
“Ada beberapa kegiatan dalam Baksos TNI Manunggal KB Kesehatan ini, diantaranya, pelayanan KB dan pengobatan umum dengan jumlah pasien sekitar 101 jiwa,” ucapnya.
Dikatakan, pada kegiatan ini jumlah peserta KB Kesehatan sebanyak 61 orang. Terdiri dari, 38 peserta KB Implan, 18 peserta KB suntik, 5 peserta Pil KB dan 1 peserta KB IUD.
“Kami juga sangat mendukung program pemerintah daerah (pemda) tetang peresmian 10 Kampung KB di wilayah Kabupaten Paser, yang tersebar pada 10 kecamatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dandim berharap pencanangan Kampung KB dapat meningkatkan program KB di daerah itu. Sehingga, percontohan Kampung KB tidak sia-sia.
“Semoga, program KB dapat menyelesaikan persoalan kependudukan, terutama di daerah ini. Sehingga, jumlah penduduk seimbang dengan perkembangan pembangunan ekonomi,” pungkasnya. (sur)

Senin, Puskesmas Senaken Layani Masyarakat

TANA PASER – Satu lagi layanan kesehatan di Kabupaten Paser berdiri. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Senaken, Kecamatan Tanah Grogot yang sudah mulai beroperasi pada Senin, 2 Oktober nanti. Puskesmas sudah bisa memberikan layanan kesehatan bagi warga sekitar.
Puskesmas yang berada tidak jauh dari Pasar Penyembolum Senaken Tana Paser ini akan melayani enam desa yang ada disekitarnya.
Diungkapkan Kepala Dinkes Kabupaten Paser dr I Dewa Made Sudarsana menyatakan seluruh persiapan sudah dilakukan untuk menyambut pembukaan pekan depan.
“Saat ini, seluruh teman-teman yang akan ditugaskan di Puskesmas Senaken telah melakukan persiapan, karena, Senin Puskesmas Senaken sudah mulai beroperasi,” kata I Dewa Made Sudarsana, kemarin.
Ada enam desa yang terlayani dengan berdirinya puskesmas, masing-masing Desa Rantau Panjang, Muara Paser, Pulau Rantau, Tapis, Jone dan Desa Senaken. “Kami harap, informasi ini bisa disampaikan kepada masyarakat, jadi tak lagi jauh-jauh berobat,” ucapnya.
Sementara, Kabag Pemerintahan dan Humas Setkab Paser M Tauhid menyatakan pengoperasian puskesmas ini bentuk komitmen pemkab untuk pelayanan kesehatan. Karenanya, selain menambah fasilitas kesehatan, Pemkab Paser juga akan terus mengupayakan peningkatan kualitas layanan kesehatannya.
“Kami harap ini bisa memenuhi harapan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan,” kata Tauhid yang ditunjuk juga sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Tanah Grogot mulai 2 Oktober mendatang. Terpisah, salah satu warga Desa Tapis menyambut positif dengan bakal dioperasikannya Puskesmas Senaken. “Dengan adanya sarana kesehatan ini, tentu sangat diperlukan dan menjadi penunjang kesehatan masyarakat. Guna meningkatkan derajat kesehatan,” kata Waris.
Untuk itu, Waris mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Paser dan Dinkes atas pembangunan dan akan dioperasikannya Puskesmas Senaken tersebut. “Kami ucapkan terimakasih kepada Pemkab Paser dan Dinkes. Yang jelas, keberadaan Puskesmas ini sangat dinanti-nanti masyarakat, khususnya enam desa ini,” pungkasnya. (sur)

Warga Miskin Meningkat Setiap Tahun

PROKAL.COTANA PASER – Setiap tahun sejak 2012. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Paser terus meningkat. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Paser menyebut, pada 2012 jumlahnya 18.900 jiwa. Lantas puncaknya pada 2016 mencapai 23.170 jiwa dari total 286.261 yang terdiri dari 142.377 laki-laki dan 125.884 perempuan.
Hal itu tidak berbanding lurus dengan angka persentase. Karena dari grafis lima tahun terakhir, angkanya naik-turun. Berdasarkan jumlah penduduk yang datang silih berganti.
Kepala BPS Paser Bahramsyah menyebutkan, angka itu merupakan hasil dari perhitungan kemiskinan makro yang pendekatannya lebih ke moneter.
“Penilaiannya tidak sedetail kemiskinan mikro yang mengetahui detail nama penduduk, alamat dan lainnya. Makro hanya sebatas jumlah garis kemiskinan dan estimasi,” ujar Bahramsyah, kemarin (26/9).
Pemanfaatan data makro itu berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskinan dengan target geografis, tapi tidak dapat menunjukkan siapa dan di mana alamat penduduk miskin. Sementara mikro, berguna untuk target sasaran rumah tangga secara langsung  yang berkaitan pada program bantuan dan perlindungan sosial, seperti bantuan langsung tunai (BLT), program keluarga harapan (PKH), dan rastra.
Peningkatan jumlah penduduk miskin ditengarai akibat inflasi, angka kemiskinan Paser pun di atas rata-rata Provinsi Kaltim, atau tiga terbesar tertinggi persentasenya setelah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kutim. 
Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Sosial (Dissos) Paser Amiruddin Ahmad meminta agar seluruh stakeholder terlibat memberantas kemiskinan. Dissos telah menjalankan berbagai upaya untuk itu, yakni dengan memaksimalkan program dari Kementerian Sosial yang sudah berjalan seperti Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Rastra, dan Kube yang langsung anggarannya turun dari pusat.
“Sedangkan untuk daerah lebih ke bantuan penyediaan anggaran pendampingan. Namun sayangnya, anggaran dari daerah menurun karena defisit, sedangkan dari pusat tiap tahunnya meningkat. Tapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk penuntasan kemiskinan, monitoring dan kegiatan lainnya harus terus berjalan,” pungkasnya. (*/jib/san/k9)


Fathur: Mutasi Jabatan Ditunda November


PROKAL.COTANA PASER – Mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Paser yang ramai disebut-sebut akan dilaksanakan September atau Oktober, ternyata batal. Hal tersebut ditegaskan Ketua Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Paser Aji Sayid Fathur Rahman. Sewaktu dikonfirmasi, dia menyatakan mutasi ditargetkan pada November atau Desember nanti.
"Setidaknya ada empat jabatan administrator dan sekitar enam jabatan pengawas yang akan ditinggal pensiun," ujar Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Paser itu, Selasa (26/9).
Mutasi jabatan, dalam rangka mengisi jabatan yang ditinggal pensiun, diharap dapat dilakukan pada bulan November atau Desember nanti.
Sedangkan sebelumnya, Asisten Umum Setkab Paser Arief Rahman belum sempat mengatakan bahwa rencana mutasi dihelat Oktober. Meskipun memang belum bisa dipastikan tanggal pelaksanaannya.
"Yang jelas kami melakukan mutasi karena ada yang lowong, misal pensiun atau pun pegawai yang pindah," tutur dia.
Lantas, Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Paser Untung ketika dikonfirmasi, menyatakan belum bisa membeberkan berapa jumlah eselon yang di mutasi maupun pensiun karena masih dalam masa cuti.  Sehingga belum mengetahui perkembangan terakhir.
“Saya baru tiba dari ibadah haji, mungkin lebih jelasnya ke kantor saja pada bidang terkait,” ujarnya. (*/jib/san/k9)


Rumah Subsidi Belum Ditangani Daerah

PERLU TELITI: Perumahan murah yang dibangun pemerintah pusat, status pengawasannya masih mengambang,belum dipegang oleh OPD terkait. (NAJIB/KP)


PROKAL.COTANA PASER – Program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kini mulai merambah ke daerah, termasuk Kabupaten Paser. Program itu berupa kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ke bawah, baik tetap maupun tak tetap.
Namun, siapa yang mengawasi program dimaksud? Apakah pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait? Masyarakat awam sering cepat tergiur dengan tawaran rumah murah bersubsidi. Tetapi, faktanya, di beberapa daerah banyak ditemukan kondisi rumah yang tidak layak. Ada pula yang tidak tepat sasaran, yakni pengembang menjual secara komersial dengan membangun melalui dana subsidi.
Kabid Perumahan Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Paser Juliansyah menerangkan, program perumahan subsidi atau FLPP itu  tidak melibatkan langsung DPKPP Paser. Pasalnya, pengembang yang disetujui usulannya langsung berkoordinasi ke Kementerian PUPR. Jadi, untuk mengetahui apakah rumah subsidi yang dibangun di Paser aman atau tidak, dia belum berani berkomentar.
Juliansyah menguraikan, DPKPP sebatas mendata berapa yang terbangun serta izin pemukiman dan pertanahan. Di luar itu, semuanya kewenangan pengembang yang sudah melakukan perjanjian dengan konsumen. Pemerintah daerah dalam hal ini kata dia, hanya membantu membangun fasilitas penunjang, seperti jalan. Itu pun ada beberapa syarat agar pembangunan jalan perumahan bisa disetujui.
“Salah satunya minimal sudah terbangun 50 rumah. Selanjutnya, pengembang bisa mengajukan usulan ke dinas untuk pengecoran jalan. Terakhir perumahan di Jone sudah 1 kilometer terbangun jalannya,” kata Juliansyah, Kamis (28/9).
Dia mengakui, pembangunan rumah subsidi ada yang bermasalah di beberapa daerah. Karena itu, masyarakat yang ingin mengambil program tersebut harus jeli. Yakni, memastikan lahan yang dibangun izinnya sudah klir, fasilitas saat penyerahan sudah sesuai dengan perjanjian awal.
“Biasanya pihak perbankan yang bekerja sama sebagai penyedia KPR, tidak sembarang menyetujui jika fasilitas yang dibangun pengembang belum lengkap. Misal, ketersediaan listrik dan air yang bukan ranah pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, beberapa pengembang perumahan yang ada di Paser masih belum rutin menyampaikan progres laporan datanya ke dinas, seperti jumlah yang sudah terbangun. Berdasar data terakhir, tercatat 11 pengembang yang tercatat.
“Ada 313 rumah tipe sederhana yang telah dihuni. Sementara yang terbangun untuk tipe yang sama ada 652 unit, ditambah 11 unit tipe menengah,” urainya.
Sebelumnya, Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Kaltim Bagus Susetyo yang dikonfirmasi mengatakan, untuk memastikan keamanan rumah yang dibeli melalui KPR dan sejenisnya, pemerintah daerah disarankan melibatkan REI. Mulai perizinan hingga pengembangan rumah.
“Ada tiga poin yang dicatat konsumen sebelum membeli. Pertama, pastikan perusahaan pengembang berbadan hukum, kedua memilki legalitas lahan atas nama perusahaan, dan terakhir memilki izin lokasi dari pemerintah daerah. Untuk rumah FLPP biasanya harus ada izin prinsip agar bisa KPR,” terangnya.
Dari data terakhir, pemerintah menargetkan pembangunan rumah 278 ribu unit pada 2017. Berikut 40 ribu unit bisa dibeli dengan skema FLPP, sementara 239 ribu dengan subsidi selisih bunga (SSB). Hingga Juli lalu, realisasi FLPP tercatat 6.491 unit dan SSB 34.595 unit. Artinya pembangunan rumah murah sudah 41.086 unit, atau masih 14,77 persen dari target. (*/jib/san/k16)



Pemkab Komitmen Selesaikan Utang

PROKAL.CO, TANA PASER  -  Pemerintah Kabupaten Paser berkomitmen untuk menyelesaikan pembayaran paket pekerjaan yang telah selesai dikerjakan pada tahun anggaran 2016, namun tertunda pembayarannya melalui APBD Perubahan 2017. Pemkab Paser tidak ingin terbebani utang dalam melaksanakan pembangunan pada tahun anggaran 2018.
“Pak Bupati (Yusriansyah Syarkawi, Red) minta rekanan yang belum diselesaikan pembayarannya di APBD Murni 2017, bisa diselesaikan di anggaran perubahan. Sehingga, pemkab bisa fokus pada skala prioritas pembangunan di 2018,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Paser, I Gusti Putu Suantara, Jumat (29/9).
Menurut pria yang akrab disapa Putu itu, ada beberapa paket pekerjaan yang belum diselesaikan pembayarannya, seperti paket pekerjaan pembenahan Siring Kandilo dan stadion. “Pemkab bersama DPRD masih membahas skala prioritas yang harus diselesaikan di anggaran perubahan. Karena ada beberapa program prioritas yang juga harus dilaksanakan, seperti pembangunan rumah layak huni,” beber Putu.
Putu menambahkan, Bupati Yusriansyah Syarkawi berkeinginan menyelesaikan utang-utang pemkab, sehingga pemkab lebih leluasa untuk menjalankan sejumlah program prioritas yang sudah disusun untuk dilaksanakan 2018. (ian/cal/k1)


“Mobil Buah” Segera Diambil si Empunya


DISALAHGUNAKAN: Mobil dinas bantuan dari Kementerian Dalam Negeri yang beralih fungsi menjadi lapak buah.

PROKAL.COTANA PASER  -  Kendaraan dinas milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, bernomor polisi DA 106 MA yang diamankan Dishub Paser dan Satpol PP Batu Sopang, kabarnya akan diambil pada Senin (2/10) depan oleh Dishub Batola. Hal ini dikatakan Kabid Darat Dishub Paser HM Guntur.
“Tadi saya ditelepon kadishub Batola, dan mengatakan mereka akan datang Senin (29/9) ke Batu Sopang untuk mengambil mobil itu. Sekaligus meluruskan ceritanya kenapa mobil dinas bisa sampai seperti itu. Beliau berharap wartawan juga bisa hadir,” ujar Guntur kepada Paser Pos, Jumat (29/9).
Di bagian lain, Kasi Trantibum Kecamatan Batu Sopang, Arbain M Noor membenarkan hal tersebut. Dishub Batola akan mengambil kendaraan beserta barang dagangan yang kini berada di halaman Kantor Camat Batu Sopang.
“Kendaraan masih ada di kami (Kecamatan Batu Sopang) dan terpakir di halaman kantor camat. Ya, kami welcome saja dan siap menyerahkan kendaraan itu,” ujar Arbain.
Seperti diketahui, kendaraan dinas milik Dishub Kabupaten Batola diamankan karena kedapatan dijadikan lapak berjualan buah di salah satu ruas jalan di Kecamatan Batu Sopang. Belakangan juga diketahui, surat kir dan surat keterangan angkutan mobil tersebut sudah habis masa berlakunya. (ian/cal/k1)