Tuesday, April 3, 2018

Warga Tahan 3 Kendaraan Perusahaan






















Balikpapan Pos,03 April 2018 Klik image untuk memperbesar/memperjelas tulisan

Jika Listrik PLN Masuk Desanya, Kades Muara Andeh akan Gelar Syukuran

PRIHATIN: Kades Muara Andeh saat menunjukkan satu rumah warganya yang belum teraliri listrik. (dwicahyo/korankaltim)




TANA PASER – Lagi-lagi harapan datang kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) dari warga Desa Muara Andeh. Mereka belum bisa menikmati pelayanan listrik Oleh PLN.

Desa Muara Andeh merupakan salah satu desa di Kecamatan Muara Sani yang sampai saat ini belum memiliki akses jaringan listrik. Masyarakat lebih banyak menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar lampu tradisional, bahkan tidak jarang mereka memanfaatkan getah kayu Meranti.

Kepala Desa Muara Andeh Samuel Reza mengatakan bahwa 60 KK dari dua  RT  di desanya pernah merasakan penggunaan listrik. “Yang belum pernah merasakan listrik ada di RT 3 dan RT 4, yang lainnya sudah menggunakan mesin Generator (Genset) sebagai penerangan, tapi itu juga hanya sebagian,” ujar Samuel.

Lanjut Samuel, sebagian warga terpaksa menggunakan getah pohon meranti untuk penerangan sebagai pengganti minyak tanah.  “Kalau listrik masuk ke desa kami, saya akan menggelar syukuran selama tujuh hari tujuh malam karena ini impian kami selama ini,” tuturnya.

Menurut Samuel, asap hitam yang dihasilkan dari getah pohon tersebut dapat mengganggu pernafasan.

Manager PLN Rayon Tanah Grogot Rahmanto saat dihubungi mengatakan sampai sejauh ini belum ada rencana perluasan jaringan ke Muara Andeh.

“Belum ada rencana untuk perluasan jaringan, tapi karena adanya informasi ini, kami akan melakukan survei terkait potensi di Muara Andeh, kemudian akan diusulkan ke manajemen PLN Wilayah Kaltimra,” jelas Rahmanto.

Dia mengaku baru mengetahui soal masih banyak Kepala Keluarga di Desa Muara Andeh yang belum menikmati listrik. 

“Mungkin karena keterbatasan dan padatnya jadwal perawatan jaringan sehingga kami tidak mengetahui jika saat ini ada desa yang belum menikmati listrik,” imbuhnya. (dc1217).


HET Sudah Disepakati, Keuntungan Pengecer Tidak Boleh Lebih dari Rp 2.000 Per Tabung

Kepala Disperindagkop saat memimpin rapat penentuan HET tabung gas LPG 3 Kg. (DWICAHYO/KORANKALTIM.COM)





KORANKALTIM.COM, TANA PASER - Sebagai upaya menjamin subsidi Tabung gas LPG 3 Kg benar-benar dinikmati masyarakat, Pemerintah kabupaten Paser menetapkan Harga Eceran Terendah (HET).
Penentuan HET tersebut dibahas saat rapat di ruang Sekda Kabupaten Paser, Senin (2/4).
Menurut kepala Disperindagkop Paser Ardiansyah menuturkan rapat hari ini merupakan lanjutan dari pembahasan rapat tanggal 21 Maret 2018 lalu.
" Rapat hari ini untuk menentukan HET tabung LPG 3 kg di Kabupaten Paser, Alhamdulillah sudah mendapatkan kesepakatan antara pemerintah dengan agen penyaluran LPG gas 3 kg, "ujar Ardiansyah.
HET yang sudah ditetapkan dan disepakati  untuk beberapa daerah atau Kecamatan yang mengalami perubahan.
" Untuk HET tertinggi di Kabupaten Paser terletak di kecamatan Tanjung Harapan perang dengan harga tertinggi Rp 27.000 dan untuk yang paling rendah ada di kecamatan Long Kali, long Ikis, kuaro dan tanah Grogot yaitu dengan harga Rp 21.000." Jelas Ardiansyah," Jelas Ardiansyah.
Selain itu Ardiansyah juga mengharapkan kepada bagian hukum untuk segera Menindaklanjuti hasil rapat tersebut, agar dapat segera disahkan oleh Bupati Paser.

Editor : Desman Minang
Penulis : Dwi Cahyo

Monday, April 2, 2018

Tim Desk Pilkada Paser Gelar Rakor

Tana Grogot (Gerbang kaltim)-Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Paser menggelar rapat koordinasi tim desk pilkada dalam rangka menghadapi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kaltim, di ruang Sadurengas Kantor Bupati Paser, Senin (2/4).
Rapat koordinasi ini dibuka Asisten III Setda Kab Paser, Arif Rahman.
Para peserta rapat koordinasi, adalah anggota tim desk kabupaten Paser, seperti kepala SKPD, camat se- Kabupaten Paser, Kapolsek dan Danramil.
Dalam rapat koordinasi ini, dihadirkan nara sumber diantara dari KPU Paser, Polres Paser dan Kodim 0904/TNG.
Kasi Politik Dalam Negeri Kesbangpol, Hartono mengatakan rakor ini bertujuan untuk menciptakan koordinasi antara anggota tim desk agar pelaksanaan pilgub di Kabupaten Paser berjalan lancar.
Selain itu, kata Hartono, rakor ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap perkembangan atau situasi menjelang dan selama tahapan pemilihan gubernur.
“Dalam rakor ini, para peserta akan menyampaikan hasil pemantauan terkini, seperti  kendala yang dihadapi di lapangan,” katanya. (erwe)


Sebelum Jenazahnya Dipulangkan ke Mojokerto, Ternyata Ayu Sudah Mengurus Kepindahannya

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Sarassani
TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER – Jenazah Reno Ayu Budi Pangestu, 23, yang ditemukan tewas dalam posisi tergantung di lokasi proyek Stadion Km 6 menurut Pemilik Toko Buku Ikhlas Muklis, Minggu (1/4/2018), telah diberangkatkan ke Mojokerto, Jawa Timur, sekitar pukul 03.00 Wita.
“Berangkat dari sini (Tanah Grogot) sekitar pukul 12.00 Wita, kalau lewat jam 12.00 menurut travel sampainya disana (Mojokerto) bisa malam, kelamaan lagi yang menunggu di sana. Kenapa dibawa kesana? Karena keluarga di Mojokerto yang minta Ayu dikuburkan disana,” kata Muklis.

Setelah divisum, jenazah Ayu langsung diberangkatkan dengan didampingi satu orang, yakni Suliono, Pakdenya.
Saat kabar karyawannya tewas (Ayu) ramai dibincangkan di sosial media (sosmed), Muklis mengaku dalam perjalanan dari Balikpapan ke Tanah Grogot.
Untuk diketahui, Ayu adalah satu dari enam karyawan Muklis yang bekerja di dua Toko Buku Iklas, pertama di Lantai III Kandilo Plaza yang buka sampai sore, sedangkan di Jalan Pangeran Menteri RT 04 Tanah Grogot dari pagi hingga pukul 22.00.
Enam karyawannya dibagi 3 shift, dua shift diantarnya untuk di toko buku di Jalan Pangeran Menteri.
“Setiap 3 hari sekali kita rolling. Dan kemarin (Sabtu,31/3/2018), Ayu kena jatah di Kandilo Plaza, waktu itu posisi saya di Balikpapan. Nah, anak-anak (karyawan) bilang Ayu keluar toko pukul 12.00, biasa ngomong keluar untuk keperluan apa, yang kemarin itu tidak cerita apa-apa, tahu-tahu keluar dan tidak kembali,” kata Muklis mengungkapkan penjelasan temannya Ayu.

Saat kejadian itu ramai di sosmed, pihak keluarga Suliono dan rekannya tidak tahu bahwa yang tewas itu adalah keponakan atau rekan kerjanya.
Menjelang magrib, baru keluarga Suliono tahu karena dalam jok sepada motor S 2190 VF ditemukan dokumen pindah Ayu ke Mojokerto.
“Sudah hampir dua tahun keponakan teman saya itu ikut kerja, anaknya tidak pernah macam-macam, tidak tertutup makanya teman-temannya tahu kalau Ayu sempat sibuk mengurus kepindahannya. Anak itu juga ceria dan taat beribadah, itu yang membuat teman-temannya tidak menyangka kepergian seperti itu,” ungkapnya.
Namun dalam 4 hari terakhir, Ayu tidak tidak seceria yang biasanya. Apa masalahnya tidak Ayu ceritakan ke rekan kerjanya. Saat keluar dari toko, Ayu tidak membawa ponsel dan tasnya.
“Karyawan saya dimintai keterangan. Infonya Ayu ada browsing simpul tali temali di ponselnya, jadi Ayu diduga bunuh diri,” sambungnya.
Stadion Km 6 itu sangat sepi dan terkesan angker, sehingga Muklis mengaku heran mengapa karyawannya berani kesana sendiri.
Jika tidak ada wakar (penjaga-red) stadion yang melihat sepeda motor Ayu, maka jenazah Ayu tidak ditemukan.
“Ada petugas yang menjaga aset pemerintah daerah di sana, saat lewat dia melihat sepada motor parkir. Curiga, dia dicek ke seluruh ruangan, ternyata melihat pemandangan seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Paser AKP Bambang Hardiyanto saat dikonfirmasi melalui ponselnya mengatakan belum mendapat penjelasan resmi tentang penyebab tewasnya Ayu. (*)

Abdullah Buka Sirkuit I Pencak Silat PSHT


Kesulitan Tangani Pengemis

PROKAL.COTANA PASER - Gelandangan dan pengemis di sudut kota Tanah Grogot seakan menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat. Keberadaan mereka jelas mengganggu aktivitas warga sehari-hari, terlebih lagi jika terdapat unsur paksaan dalam meminta bantuan kepada warga.
Kepala Dinas Sosial (Dissos) Paser melalui Kabid Rehabilitasi Sosial Puji Widiyastanti menyebut penanganan gelandangan pengemis serta anak jalanan masuk ranahnya. Namun, Dissos tidak dapat melakukan penanganan bila belum ada tindakan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebagai penindak pelanggaran Perda Kabupaten Paser.
“Kami dari Dinas Sosial tidak bisa mengambil tindakan sebelum ada upaya dari Satpol PP," jelas Widy. Jika penindakan telah dilakukan dan dilaporkan kepada Dinas Sosial, proses selanjutnya adalah melakukan pendataan sesuai KTP yang dimiliki. Kemudian, memulangkan masing-masing pengemis ke tempat asal, dengan harapan, tidak lagi kembali ke wilayah Kabupaten Paser.
"Jika sudah ada penindakan dari Satpol, kami akan melakukan pendataan berdasar kartu identitas yang dimiliki. Jika tidak memiliki identitas, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil untuk pengecekan menggunakan rekam sidik jari. Setelah itu, baru kami bisa berikan tindakan lebih lanjut," ujar Widy.
Menurut dia, penanganan gelandangan dan pengemis yang terkadang musiman ini tidak bisa dilakukan oleh satu instansi. Melainkan dibutuhkan peran lintas sektor yang berkaitan dengan orang-orang tersebut. Dengan begitu, penindakan dan penanganannya tepat sasaran dan tidak merugikan.
"Jangan sampai karena kita mau membantu orang-orang tersebut, malah membebani anggaran daerah. Jadi, kami di sini mencoba dengan anggaran yang minim ini tetap bisa membantu secara maksimal," jelasnya. "Pernah ada orang datang dan mengaku baru saja kecopetan, sehingga dia meminta bantuan Dinas Sosial untuk anggaran pulang ke daerahnya di Sumatra. Namun, waktu kami selidiki, ternyata orang tersebut tinggal di wilayah Kaltim," tambahnya. (*/ns/iza/k16)