Thursday, January 25, 2018

Ditolak Bank, Orangtua Tak Mampu Membiayai Anak Terkena Hidrocephalus


SOROT – Sudah sekitar delapan bulan penyakit hidrocephalus bersarang di kepala Sri Wahyuningsih, akibat penyakit itu, Sri Wahyuningsih yang baru berumur satu tahun itu, hari-harinya hanya bisa merasakan sakit lewat rintihan diatas tempat tidur.
Lahir dari keluarga yang kurang mampu, Irfan Suri dan Munah sebagai orangtua Sri Wahyuningsih hanya bisa pasrah dan memanjatkan doa untuk kesembuhan sang buah hati.
Begitu besar harapan Irfan, sang ayah untuk kesembuhan anaknya yang ketujuh, namun sebagai orang yang tak mampu, ia pun tak berani melangkahkan kaki membawa Sri Wahyuningsih ke rumah sakit.
“Dulu hanya pernah dibawa ke Puskesmas, dari Puskesmas itu sebenarnya sudah ada surat rujukan, tapi karena belum ada biaya jadi belum dibawa ke rumah sakit,” kata Irfan, Rabu (24/1/18).
Berharap agar bisa membawa putrinya ke rumah sakit, Irfan yang juga warga Desa Mendik/Mendik 4, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, Kaltim, mencoba datang ke salah satu bank dengan niat meminjam dana.
Bermodal selembar Surat Keterangan Tanah (SKT) Irfan pun mengajukan permohanan pinjaman, dari dana pinjaman itulah nantinya yang ingin digunakan untuk membiayai pengobatan anaknya. Tapi sayang pihak bank tak bisa mengabulkan keinginannya.

Pedagang Buah Diberi Tenggat Lima Hari

ALOT: Negosiasi antara pedagang dan petugas sempat alot. Pedagang akhirnya setuju direlokasi. (Foto: ist)


TANA PASER-Berbagai macam cara dilakukan Pemerintah Kabupaten Paser untuk menata kembali Ruang Kota Tanah Grogot. Mulai dari melakukan bersih – bersih taman sampai pada relokasi pedagang yang berjualan di fasilitas publik.
Seperti yang dilakukan tim gabungan pada Rabu (24/1) pukul 09.00 Wita yang mulai menyisir barisan pedagang yang berada di Tepian Sungai Kandilo, Jalan Yos Sudarso Tanah Grogot.
Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UKM, Polres Paser, TNI, dan instansi terkait lainnya melakukan negosiasi dan meminta para pedagang buah pindah ke Pasar Penampungan Senaken.
Kepala Disperindagkop Paser Ardiansyah mengatakan penertiban pedagang tersebut dilakukan sebagai upaya untuk penataan kota. “Berdasarkan intruksi Wakil Bupati Paser untuk segera melakukan menertibkan pedagang yang membuat lapak di sepanjang Tepian Sungai Kandilo,” ungkap Ardiansyah.
Ditambahkannya, pemerintah telah memberikan surat peringatan kepada pedagang agar tidak membuat lapak di area tepian Sungai Kandilo. Tapi sampai saat ini jumlah lapak pedagang malah semakin bertambah.
Sempat terjadi ketegangan antara petugas dan pedagang karena ada sebagian pedagang buah yang bersikeras tak mau direlokasi ke Pasar Penampungan Senaken. Mereka beralasan daerah tersebut sepi pembeli.
“Dulu sudah pernah jualan buah di Pasar Penampungan Senaken, buka jam 09.00 pagi sampai sore jam 4 sore, tapi karena kurang pembeli, saya memilih pindah keluar saja lah,” ungkap salah satu pedagang.
Pedagang lainnya, Abdullah meminta, jika pedagang buah direlokasi, maka pintu utama masuk ke Pasar Induk Senaken harus ditutup. Tujuannya agar semua orang yang masuk pasar itu hanya melalui pintu Pasar Penampungan Senaken.
“Bisa saja dipindahkan kalau pintu tengah pasar ditutup, jadi semua orang yang ke pasar Induk Senaken pasti lewat pasar penampungan, otomatis mereka melihat dagangan kita,” ujarnya kepada petugas. Para pedagang akhirnya bersedia direlokasi dengan syarat lapak yang akan ditempati sudah siap.
Camat Tanah Grogot Siti Makiah Saat ditemui mengatakan, penertiban ini akan tetap dilaksanakan. Namun, pedagang tidak bisa langsung dipindahkan begitu saja tanpa mempersiapkan lokasi yang akan mereka tempati.
Berdasarkan hasil kesepakatan, pedagang diberikan waktu untuk mengemasi dan membongkar lapaknya sendiri selama lima hari ke depan, tepatnya hingga hari Senin (29/1). (dc1217)

Kampung Warna-warni di Desa Janju Resmi Jadi Objek Wisata di Paser

Kepala Disporapar Paser meresmikan kelompok sadar wisata Desa Janju sebagai tanda diresmikannya kampung warna-warni di desa itu sebagai objek wisata (Foto: Dwi cahyo/korankaltim.com)


KORANKALTIM.COM - Kampung warna-warni di Desa Janju, Kecanatan Tanah Grogot, resmi menjadi objek wisata di Kabupaten Paser.
Hal ini ditandai dengan diresmikannya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Janju oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), Kamis (25/1) pagi tadi.
Kepala Disporapar Paser, Ishak mengapresiasi usaha warga Desa Janju yang telah bersama-sama membentuk kampung warna-warni secara swadaya.
“Hadirnya kampung warna-warni di Kabupaten Paser ini merupakan upaya peningkatan perekonomian warga Desa Janju,” kata Ishak.
Camat Tanah Grogot, Siti Makiah menjelaskan Janju merupakan desa pertama yang membentuk kampung warna warni di Kabupaten Paser. 
“Sebagai yang pertama diharapkankan bisa menjadi contoh serta semangat bagi pemerintah desa lain agar bisa berpikir kreatif dalam meningkatkan PAD desanya,” demikian Siti Makiah.


RSUD Panglima Sebaya Siapkan Ruang Isolasi Pasien Difteri


KORANKALTIM.COM - RSUD Panglima Sebaya, Paser menyiapkan ruangan khusus untuk merawat pasien suspect difteri. 
Direktur RSUD Panglima Sebaya,  Eka Wesnawa mengatakan ruang isolasi itu disiapkan mengantisipasi adanya warga Paser yang terjangkit difteri.
"Tapi harapannya warga Paser jangan ada yang terjangkit difteri,” kata Eka kepada KORANKALTIM.COM, Kamis (25/1).
Kepala Dinas Kesehatan Paser, I Dewa Made Sudarsana mengatakan hingga saat ini belum ada laporan adanya warga Paser yang suspect difteri.
Upaya pencegahan melalui pemberian vaksin kepada masyarakat juga telah dilakukan di Puskesmas.
“Dinas Kesehatan sudah menyebarkan informasi ke masyarakat terkait bahaya difteri selain itu juga dilakukan pemberian vaksin,” demikian I Dewa Made Sudarsana.

Wednesday, January 24, 2018

Penertiban Ditunda, PKL Diberi Waktu untuk Membongkar Lapak Sendiri

Petugas gabungan saat hendak menertibkan pedagang kaki lima di pinggir Sungai Kandilo, Paser (Foto: Dwi Cahyo/korankaltim.com)


TANA PASER - Tim gabungan memberikan waktu bagi para pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir Sungai Kandilo, untuk membongkar sendiri lapaknya hingga Minggu (28/1).
Kesepakatan ini diambil setelah petugas gabungan yang terdiri dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Pemerintah Kecamatan Tanah Grogot, Kelurahan Tanah Grogot, Satpol PP , TNI, dan polisi.
Kepala Disperindagkop Ardiansyah mengatakan penertiban dilakukan guna  memperindah tata kota.
“Sebenarnya lapak para pedagang sudah disiapkan di area Pasar Senaken, tapi sampai saat ini banyak pedagang yang masih membuat lapak di luar, terutama di kawasan Pinggir Sungai Kandilo," katanya.
Tim gabungan dan pedagang sepakat memberikan waktu hingga Minggu (28/1) mendatang.


Silaturahmi Koran Kaltim di Kabupaten Paser,

MITRA KERJA: (Dari kanan) Pemimpin Redaksi Koran Kaltim Desman Minang, Sekretaris DPRD Paser, Amiruddin, dan Manager Iklan Koran Kaltim Bambang Irawan.


TANA PASER – Rombongan Koran Kaltim melakukan kunjungan ke Kabupaten Paser, Selasa (23/1). Di antaranya yang dikunjungi adalah Sekretaris DPRD dan Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfo). 
Di antaranya rombongan terdapat Pemimpin Redaksi Koran Kaltim Desman Minang dan Manager Iklan Bambang Irawan. 
Di Sekretariat DPRD Paser, rombongan Koran Kaltim bertemu dengan Sekwan Amiruddin. Berbagai hal terkait media di bahas. Satu di antaranya mengenai peran media mempublikasikan agenda kedewanan. 
Seperti sebelumnya, di 2018 ini kerja sama antara DPRD Paser dan Koran Kaltim kembali akan terjalin. “Kita berkerja secara profesional, begitu pula dengan jalinan kemitraan ini. Koran Kaltim sangat membantu DPRD Paser dalam hal menginformasikan segala kegiatan kedewanan” ungkap Amir.
Di Diskominfo, rombongan bertemu dengan Kabid Komunikasi Informatika Publik, Najaluddin. Sama dengan di Sekretariat DPRD, Diskominfo juga mengapresiasi peran Koran Kaltim dalam mempublikasikan kegiatan pemerintah. “Kemitraan dengan media akan tetap terjalin,” ungkap Najaluddin. 
Ia menyadari suksesnya pembangunan suatu daerah tak terlepas dari peran media massa.  Karena itu, kerja sama yang telah terjalin dengan baik harus dipertahankan. (dc1217)

Camat Diminta Selektif Salurkan Rastra


PROKAL.COTANA PASER  -  Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Paser Aji Sayid Fathur Rahman berharap, camat dapat lebih selektif dalam memberikan bantuan sosial (bansos) beras sejahtera (rastra) -dulu dikenal dengan beras miskin (raskin)- kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kami harap penyaluran rastra bisa selektif kepada penerima yang benar-benar membutuhkan,” ujar Fathur Rahman di Tana Paser, Selasa (23/1), usai penyaluran rastra secara simbolis oleh Wakil Bupati Paser Mardikansyah kepada Camat Tanah Grogot, Siti Makkiyah.
Data penerima rastra atau kelompok penerima manfaat (KPM), menurut Fathur Rahman, sudah ditentukan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Meskipun demikian, data tersebut tetap berasal dari data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Paser, berdasarkan rekomendasi dari kepala desa (kades) masing-masing.
“Data penerima bantuan ini dihimpun dari kabupaten ke kementerian. Nama-nama penerimanya sudah ada. Dari data itulah KPM rastra ditentukan,” ujar Fathur Rahman, sembari menambahkan, diperlukan pengawasan yang baik dari camat masing-masing.
Dia berharap tidak terjadi penumpukan beras atau tidak tepatnya sasaran bantuan tersebut kepada KPM di setiap desa. Penyaluran rastra yang dilakukan ke setiap kecamatan perlu pengawasan yang baik dari para camat. 
“Kami minta camat untuk mengawasi baik-baik penyaluran rastra ini. Jangan sampai ada semacam penumpukan beras atau penyalurannya tidak tepat sasaran, karena bantuan ini gratis. Jangan sampai bantuan ini arahnya lain, jadi harus hati-hati,” ujar Fathur Rahman.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Paser Haerul Saleh mengatakan, data KPM rastra berdasarkan rekomendasi dari desa, dengan pertimbangan apakah penerima tersebut layak mendapatkan bantuan dan dikategorikan masyarakat tidak mampu atau sebaliknya.
“Datanya setiap tahun berubah, yaitu data yang didapat melalui rekomendasi kades masing-masing, apakah penerima bantuan itu layak mendapatkan bantuan atau tidak,” ujar Saleh, sembari menegaskan, tidak ada pungutan sepeser pun dalam penyaluran rastra.
Di bagian lain, Kepala Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Tanah Grogot Rendy Hidayat mengatakan, mekanisme penyaluran rastra pada tahun 2018 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini, rastra disalurkan tanggal 25 setiap bulannya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, rastra dilakukan setiap enam bulan sekali.
“Tahun ini gratis, tapi volumenya dikurangi. Tahun lalu penerima mendapat 15 kilogram per bulan, tahun ini mendapat 10 kilogram per bulan,” ujar Rendy.
Pada tahun 2017, sebut Rendy, penyaluran rastra dilakukan setiap enam bulan sekali. Kalau tahun lalu, penerima rastra dibebankan biaya tebusan Rp 1.600 per kilogramnya. (*/ian/cal/k1)