Monday, July 3, 2017

Jangan Lupa Sejarah

Warga Berharap Pelestarian Peninggalan

PROKAL.COTANA PASER   -  Kondisi salah satu situs bangunan bersejarah di Kabupaten Paser yang terbengkalai dan tidak terurus menjadi sorotan salah seorang warga Kecamatan Batu Sopang, Arbain M Noor, yang beberapa waktu lalu berkunjung ke kawasan wisata sejarah di Kecamatan Paser Belengkong itu.
“Perlu diingat dan menjadi renungan kita semua selaku warga Kabupaten Paser, cikal bakal daerah ini adalah Kerajaan Sadurengas dan Kesultanan Paser. Jangan lupa dengan sejarah, harusnya situs-situs sejarah yang ada di Kabupaten Paser bisa dilestarikan oleh Pemkab Paser dan pihak terkait,” ujar Arbain saat berbincang dengan Paser Pos, Minggu (2/6).
Disebutkannya, sebenarnya masih banyak situs-situs sejarah di Kabupaten Paser yang melegenda dan belum tersentuh sama sekali. Salah satunya, rumah kuno yang disebut Soraja milik Raja Muda Paser (H Aji Nyesse bin Aji Nata Kesuma Panembahan Soelaiman) yang kondisinya sangat memprihatinkan.
“Dilihat dari bentuk dan arsitektur bangunannya, bangunan ini termasuk megah di zamannya dan mulai kini dimakan usia. Dan diakui atau tidak, bangunan rumah kuno Seroja adalah bukti sejarah yang tidak terbantahkan,” beber Arbain yang juga ketua DPW Lembaga Adat Paser.
Arbain merasa prihatin dan berharap ada pihak yang benar-benar dapat membantu untuk memugar peninggalan yang bernilai sejarah itu. Namun tidak hanya bangunan Seroja, situs-situs sejarah yang lain seperti makam raja-raja Paser, keraton, dan kompleks batu Indra Giri, juga harus mendapat perhatian dan pemeliharaan secara berkala.
“Jika situs-situs sejarah ini terawat dengan baik, selain akan menjadi kawasan objek wisata sejarah yang representatif di Kaltim, juga akan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah serta memberi angin segar bagi para perajin kerajinan tangan khas Paser,” tutup Arbain. (ian/cal/k1)

Nikmati Es Kelapa Bersama Buras

PROKAL.COTANA PASER – Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Paser, tak lengkap rasanya jika belum mencoba tempat kuliner yang terletak di Kecamatan Paser Belengkong. Jaraknua sekitar 4 kilometer dari ibu kota Tana Paser. Di sana ada Kedai Es Kelapa Belengkong.
Warung yang buka sejak 12 tahun itu, disebutkan pemiliknya Arbainah (44), kebanjiran pengunjung selama libur Lebaran. Biasanya dia menjual rata-rata 50 butir per hari atau 100–150 butir kelapa di hari libur. Khusus libur Lebaran, hampir 200 butir kelapa yang dijual per hari.
 Alhamdulillah, makin ramai. Kalau saya hanya jual es kelapa. Sedangkan makanan lainnya, itu milik orang lain yang menitip. Syukurnya yang lain juga ramai dagangannya,” kata Arbainah, kemarin (2/7).
Khasnya, minuman tersebut berpasangan dengan makanan buras. Disebutkannya, penjualan buras selama libur Lebaran ini bisa mencapai 300 ikat per hari.  (*/jib/ica/k9)

115 Warga Binaan Dapat Remisi

PROKAL.COTANA PASER – Pada momen Idulfitri tahun ini, 115 warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Tanah Grogot, Kabupaten Paser, memperoleh remisi. Kepala Rutan Klas II B Tanah Grogot Husni Thamrin menuturkan, dari 425 warga binaan, ada 114 orang yang mendapat remisi khusus (RK) I dan satu orang memperoleh RK II.
Besar potongan masa tahanan yang diterima berbeda-beda. Yang terendah 15 hari hingga tertinggi yakni satu bulan. “Awalnya diusulkan 214 orang. Namun yang mendapat remisi hanya 115 orang. Mereka adalah yang masa hukumannya di bawah lima tahun, seperti kasus pencurian, dan kasus umum lainnya. Sementara yang di atas lima tahun, seperti narkoba dan tindak pidana korupsi (tipikor),” terang Husni, kemarin (2/7).
Dilanjutkan, tahanan narkoba ada beberapa yang mendapat remisi, dengan pertimbangan telah mendapat rekomendasi dari kepolisian membantu mengungkap kasus. Warga binaan yang mendapat remisi semuanya umat muslim. Sedangkan agama lain, akan mendapat jatah pada hari raya masing-masing.
“Misalnya saat Natal, umat nasrani yang berhak mendapat remisi,” tambahnya.
Dari jumlah 425 penghuni rutan, 405 orang beragama Islam. Selama Lebaran, yakni pada 25–27 Juni, diberikan ada layanan spesial yang diberikan. Waktu kunjungan dibuka sejak pukul 09.00–16.00 Wita. Bahkan, pengunjung tak perlu antre. Di luar dan dalam rutan disiapkan tenda, dan hiburan electone(*/jib/ica/k9)

Saturday, July 1, 2017

Ramai Pengunjung, namun Kurang Inovasi

Museum Sadurengas Belengkong Masih Favorit

PROKAL.COTANA PASER  –  Libur Lebaran dipilih masyarakat Paser dengan berbagai opsi. Ada yang keluar kota dan ada yang hanya berwisata di kawasan Paser. Objek wisata yang selalu ramai dikunjungi adalah Museum Sadurengas yang terletak di Kecamatan Pasir Belengkong.
Warisan budaya itu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal maupun luar untuk berkunjung. Kendati tidak ada inovasi dan perombakan, pengunjung tetap memadati cagar budaya milik Pemkab Paser tersebut.
Salah seorang penjaga museum bernama M Arifin menuturkan, sampai Kamis (29/6) sudah 32.000 karcis terjual. Kunjungan paling ramai terjadi pada hari kedua Lebaran yang mencapai 2.000 orang.
“Tahun ini memang sedikit menurun. Wajar saja karena tidak ada perombakan atau inovasi yang disajikan. Hanya ada tari-tarian dan elektone. Seharusnya dari pemerintah daerah membantu mempromosikan dan memperbaiki tampilan wajah museum, maklum sudah lama tidak tersentuh perbaikan,” terangnya.
Dia mengharapkan lebih banyak varian benda pusaka yang ada di museum itu. Karena masih banyak warisan budaya Paser yang belum dieksplor, lantaran terkendala dukungan kebijakan maupun anggaran.
Ahmadi, penjaga museum lainnya, mengeluhkan tidak adanya perhatian kesejahteraan kepada petugas yang berjaga selama ini. Dia menginginkan ada pendapatan tambahan yang bisa dibagi dari hasil penjualan karcis. Hal tersebut demi memicu semangat meningkatkan kinerja di tengah sepinya kunjungan ketimbang tahun sebelumnya.  “Uang makan harian saja tidak ada, apalagi THR Lebaran,” keluhnya.
Sementara petugas lainnya yang tidak ingin disebutkan namanya, lebih memilih berjualan suvenir khas Paser demi mendapatkan tambahan penghasilan. Setidaknya hingga kemarin, dia mampu meraih omzet jutaan rupiah. “Lumayan pembelinya cukup banyak. Di sini masih saya saja yang berjualan, pengusaha lain atau siapa saja bisa berjualan suvenir atau oleh-oleh lainnya,” sebutnya.   (*/jib/ica/k9)

Penumpang Turun 50 Persen

PROKAL.COTANA PASER –  Hal tak menggembirakan dialami para sopir angkutan umum di Terminal Tugu Mandau kilometer 7, Desa Janju, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Pada arus mudik dan balik Idulfitri tahun ini, jumlah penumpang yang menggunakan jasa mereka kian seret.
Ipul, seorang sopir angkutan umum menyebut, arus mudik dan balik tahun lalu justru lebih ramai. Saat ditemui kemarin (30/6) dia menyebut, sebelumnya minimal ada 20 unit yang menunggu giliran. Sementara saat ini, hanya 14 kendaraan.
“Terasa sekali penurunannya. Tahun lalu kami masih dicari-cari penumpang. Sekarang kami yang mencari penumpang,” ungkap Ipul.
“Pagi ini (kemarin), baru satu angkutan yang berangkat menuju PPU. Mungkin dua hari lagi, jumlah penumpang akan meningkat,” jelanya.
Suryanta, selaku koordinator di terminal itu membenarkan adanya penurunan pengguna jasa. Dia menyebut hal itu terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya, makin banyaknya kendaraan pribadi termasuk motor, sehingga angkutan umum tersisihkan.
“Juga ada trayek angkutan bodong, karena statusnya belum jelas. Lalu banyak perusahaan yang menyediakan angkutan khusus untuk mudik. Padahal sebelumnya menggunakan angkutan umum,” bebernya.
Pada arus mudik dan balik tahun lalu, jumlah penumpang mencapai 8.810 orang. Sedangkan pengguna jasa tahun ini, sejak H-8 hingga kemarin, baru 4.028 penumpang. “Ada penurunan hingga 50 persen,” tambah Suryanta. (*/ns/ica)

Ruas Batu Engau Perlu Diperbaiki

PROKAL.CO, Sejumlah ruas jalan di Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, khususnya yang berada di perbatasan Kaltim–Kalsel mengalami kerusakan parah. Yang harus ditangani segera adalah akses yang berstatus jalan provinsi, dari Desa Kerang hingga Kecamatan Tanjung Harapan.
Sederet usaha telah dilakukan warga agar pemerintah memberikan perhatian. Mulai melakukan pemortalan jalan dan memasang berbagai macam tulisan bermakna kritikan terhadap minimnya perhatian. Bahkan, ada niat mendatangkan reporter televisi nasional untuk meliput kondisi tersebut.
Bukan tidak pernah disentuh perbaikan, anggaran puluhan miliar telah digelontorkan. Namun, menurut warga, perbaikan belum maksimal. Sementara yang memanfaatkan adalah warga di delapan desa. Yaitu Desa Tampakan, Pengguren, Riwang, Segendang, Keladen, Random, Senipah, dan Tanjung Aru.
Ketua Komisi I DPRD Paser Abdullah mengaku telah melakukan berbagai upaya agar jalan itu diperbaiki. Poros Kerang-Tanjung Harapan pun dalam waktu dekat akan dibenahi “Insyaallah akan diperbaiki bertahap, karena keterbatasan anggaran. Akan dikerjakan dengan pola tahun jamak,” ujar Abdullah. (*/ns/ica/k9)

Jembatan Titian Perlu Bak Sampah

PROKAL.CO, TANA PASER  -  Jembatan Titian Ulin di Tepian Sungai Kandilo Bahari ramai dikunjungi warga saat sore hari. Pasalnya, tempat itu dijadikan sarana rekreasi dan alternatif tempat hunting foto. Ditambah jembatan tersebut tak jauh dari Jembatan Sungai Kandilo serta wahana permainan kawasan Tepian Sungai Kandilo. Namun sayangnya, jembatan belum dilengkapi bak sampah. Tidak adanya tempat sampah membuat para pengunjung membuang sampah sembarangan. Bahkan, banyak yang membuang ke sungai.
“Kalau sudah sore hari, pasti sampah berceceran di jembatan ini. Soalnya tempat pembuangan sampah tidak ada, jadi para pengunjung buang sampah begitu saja atau buang ke sungai,” kata Wawan, pedagang di ujung Jembatan Sungai Kandilo.
 Wawan menuturkan, setiap akhir pekan pengunjung biasanya sangat ramai di Jembatan Titian, mulai pukul 16.00 Wita. Pengunjung didominasi anak-anak muda. Kadang mereka sampai tengah malam baru pulang.
Ridwan, salah seorang pengunjung menambahkan, tidak adanya bak sampah membuat pengunjung membuang sampah ke sungai.  “Kalau di Siring Kandilo ada tempat sampah, di sini belum ada,” ujar Ridwan.
Dia juga menuturkan, para pengunjung yang datang biasanya membawa belanjaan makanan, kemudian nongkrong dan meninggalkan bungkus makanan dan minuman. Diharapkan pemerintah menyediakan tempat sampah di sepanjang jembatan, sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan. (apy/cal/k1)